Melihat dan Melihat

Melihat dan Melihat

Oleh : Andrie Wongso

Alkisah pada abad ke-19 di Negeri China . Toko Buah Yu mengangkut 50 keranjang nanas dari daerah Laiyang ke Shanghai . Karena perjalanan yang jauh, maka ada sebagian nanas yang mulai membusuk dan dibuang..

Di seberang Toko Buah Yu ini, tinggallah sepasang suami istri yang miskin. Mereka segera memungut nanas-nanas yang dibuang itu dan mengupasnya. Lalu dengan teliti memilih bagian yang masih baik, memotongnya kecil-kecil, kemudian menjualnya. Ternyata, dagangan itu laris manis.

Akhirnya, suami istri tersebut membeli nanas yang tidak bisa dijual Toko Buah Yu karena sudah mulai membusuk. Pemilik Toko Buah Yu menyambut dengan senang hati dan menjual berkilo-kilo nanas dengan harga sangat murah!

Pasangan suami istri miskin ini, bekerja dengan tekun. Mereka membuka kios sederhana di depan rumah. Selain menjual nanas dalam potongan-potongan kecil, mereka juga menyediakan kue dodol nanas. Bisnis mereka berjalan baik dan lanacar. Dalam waktu yang tergolong singkat, kue dodol nanas telah menjadi makanan khas daerah Tiongkok Selatan dan bahkan dikenal sampai ke kerajaan.

Pemilik Toko Buah Yu iri hatinya, atas keberhasilan bisnis suami istri yang tinggal di depan tokonya. Ia tahu bahwa kue dodol nanas itu terbuat dari nanas asal tokonya, yang sudah mulai membusuk. Maka pada malam hari, Tuan Yu menulis tiga aksara berikut: 天知道 (Tian Zhi Dao)/Langit Tahu di sehelai kertas, lalu menempelnya di pintu toko kue dodol nanas.

Esok harinya, suami istri tersebut melihat tulisan itu. Mereka terperanjat, tahu kalau ada orang yg ingin merusak bisnis mereka. Tapi kemudian, sang suami tertawa dan berucap, “Saya kebetulan sedang berpikir mencari nama toko, dan hari ini ada orang yang menuliskan nama toko dan mengirimnya ke depan pintu. Bagus sekali!” Katanya lagi, “Kaisar juga pernah memakan kue dodol nanas dari tokoku. Kaisar adalah Putra Langit di masa ini, jadi memang sudah seharusnya kalau memakai nama “天知道 (Tian Zhi Dao)”. Oke, saya gunakan tiga aksara ini sebagai nama toko!” Akibatnya bisnis kue dodol nanas ini menjadi semakin melejit.

Tuan Yu berang bukan main. Rasa iri dan dengkinya makin menjadi-jadi. Selanjutnya, ia dengan liciknya melukis di dinding toko itu seekor kura-kura yang menyembunyikan kepala di dalam tempurung dengan disertai tulisan, “Tidak tahu malu!”

Keesokan harinya, melihat lukisan kura-kura ini, sepasang suami istri itu terdiam, namun sejenak kemudian keduanya berucap secara bersamaan, “Kita gunakan kura-kura sebagai logo produk. Kue dodol nanas memang dapat menyembuhkan batuk dan memperpanjang usia. Sementara kura-kura adalah hewan yg panjang usianya.” Sejak itu, logo kura-kura menjadi logo yang terkenal di Shanghai .

Orang bijak dapat mengubah setiap gangguan menjadi peluang. Luar biasa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: