Mengapa Saya Berbohong.

Untuk berbohong kita membutuhkan biaya, tenaga dan pikiran. Sementara Jujur kita hanya butuh sedikit keberanian.
#NasehatDiri

Seseorang pernah bercerita. Pada masa konflik antara GAM dengan TNI, di sebuah pesantren tempat orang-orang melakukan suluk di Aceh selatan, kedatangan 2 orang GAM yang sedang berusaha bersembunyi dari kejaran TNI. Saat mereka datang dan masuk ketempat orang-orang yang hanya berfokus untuk mengingat Allah itu, pimpinan pesantren tidak menyuruh masuk tidak pula melarang. Pimpinan pondok dengan bijak mengatakan, ”Kamu yang memutuskan”.

Beberapa saat kemudian, datanglah satu regu penyergap dari TNI ke pondok tersebut. Wajah mereka tertupi garis-garis miring berwarna hijau dan hitam loreng, seperti yang kita saksikan di film-film pasukan khusus Amerika. Di tangan mereka, senapan laras panjang dalam keadaan siaga, siap melepaskan logam panas kesasaran yang ditargetkan. Siapapun bisa menjadi sasaran dalam kondisi seperti itu. Lalu, komadan regu team penyergap bertanya kepada pimpinan pondok?

”Pak Tengku, apakah ada orang yang bersembunyi di sini? Mohon mejawab dengan jujur, karena bila Anda berbohong, Anda tau resikonya. Anda dan para jamaah bisa dianggap melindungi pemberontak yang kami cari”. Pimpinan pondok diam sejenak. Karena jawaban beliau akan menentukan nasib kedua orang yang bersyembunyi di pondok tersebut. Bila beliau menjawab iya, maka nyawa kedua orang itu akan segera menjadi asbab malaikat Izrail untuk menjemputnya. Bila berbohong, dan tidak ketauan, maka selamatlah semuanya.

White lie

Sementara itu, adalah istilah untuk menjelaskan, kondisi-kondisi yang lebih bijak bagi seseorang untuk berbohong dibandingkan mereka jujur. (White) putih, (Lie) bohong. Kebohongan yang diputihkan. Entah kapan dan dari mana sejarahnya. White lie ini menjadi sesuatu yang lumrah. Karena menimbang efek yang ditimbulkan dari melakukan kebohongan tersebut lebih sedikit mudharat kerusakan, sampai mengancam kehilangan nyawa atau ketidakmanfaatannya, dibandingkan jujur.

Pemahaman ini sudah tertanam kedalam bawah sadar saya dari semenjak saya SD kelas 3. Karena, waktu saya kecil, di bulan Ramadhan saya mendengar seorang penceramah menyampaikan kultumnya dengan tema ”Bahaya kebohongan”. Di dalamnya beliau juga menyebutkan, bahwa berbohong itu hanya boleh dilakukan dalam perang (yang dilakukan oleh mata-mata) dan menghindari mudharat yang lebih besar.

Contoh yang sering di sebutkan, apabila ada orang yang lewat di depan saya, karena di kejar oleh seseorang yang membawa parang ingin membunuhnya. Kemudian, orang yang mengejar sambil membawa sebilah pedang tersebut bertanya kepada saya ”Apakah melihat orang lewat barusan”. Cara berbohongnya adalah, saya bergeser tempat berdiri satu atau dua langkah. Kemudian menjawab ”Semenjak saya berdiri di sini, saya tidak melihat orang lewat satupun”.

Pembenaran perilaku

Dari semenjak saya kecil hingga sampai sekarang, contoh itu selalu menjadi gambaran yang paling mudah difahami menghindari mudharatnya. White lie seperti itu memang tidak keliru, karena jelas dari sisi manfaat dan terhindar mudharatnya. Tetapi, semakin bertambah usia, saya memperhatikan, konsep itu sudah mulai bergerser penggunaannya. Karena alasan demi kemanfaatan, maka kebohogan seakan menjadi lebih baik.

Pada masa sekolah dulu, dari pada seorang teman kena hukuman, bahkan memungkinkan dikeluarkan dari sekolah, maka saya tidak menyampaikan kepada pihak sekolah, kalau teman saya tidak shalat jamaah.

Sudah menjadi rahasia umum di beberapa sekolah. Saat anak-anak SD, SMP dan SMA mau ujian nasional. Maka, pasti ada pihak yang melakukan kecurangan. Orang yang mengetahui hal itu memutuskan untuk diam saja, seolah-olah tidak mengetahui yang terjadi. Karena, bila dia diam, maka dia menyelamatkan banyak siswa dari ancaman tidak lulus. Sehingga itu menimalisir terjadi stress pada siswa.

Dalam rumah tangga, ada alasan. Lebih baik tidak memberitahukan yang sebenarnya terjadi, dari pada pasangan menjadi marah dan berefek perceraian. Di kantor pun demikian. Ada tempat kerja, mungkin Anda dan saya mengetahui sudah terjadi korupsi, tapi dari pada kita beritakan kebenarannya, bisa menimbulkan dampak lebih besar. Maka, kita memutuskan untuk berdiam diri. Saat seseorang menawari makan pun juga demikian, dari pada dianggap gak tau diri, saya memutuskan lebih baik menolak tawaran dengan mengatakan ”saya sudah makan”. Padahal perutnya kelaparan. He..he…

Entah demi alasan apa lagi, yang saya anggap lebih baik saya bohong dari pada jujur. Dengan berdalih demi kemaslahatan bersama. Padahal itu jelas-jelas sebuah kesalahan dari tindakan, dan keliru penafsiran dari rukshah yang ada. Di sisi lain, ada kondisi yang tidak saya sadari efek dari pemakluman berbohong tadi. Bila kebohongan itu demi menutup suatu perilaku, maka perilaku itu semakin menjadi. Tidak kapok, ujungnya tidak pernah berubah. Bahkan, yang lebih parah, kebiasaan itu menjadi karakter.

Silahkan periksa sendiri

Kembali dengan cerita di atas. Setelah diam sejenak untuk memiikirkan yang terbaik, maka pimpinan podok menjawab dengan penuh kejujuran, karena tidak ingin berbohong sedikitpun. Beliau mengatakan ”Bapak komadan, silahkan periksa saja sendiri” dengan mengarahkan tangan untuk menginzinkan team penyergap memeriksa tempat beliau. Kemudian komadan memerintahkan anak buahnya ”Kita tinggalkan tempat ini, beliau tidak bohong kepada kita”. Mungkin karena sangking jujurnya, sehingga semuanya aman sentosa.

Sumber:
Rahmadsyah Mind-Therapist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: