Kacamata Hidup

Kalau Anda menginginkan perubahan yang kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda. Tetapi bila Anda menginginkan perubahan besar dan mendasar, garaplah paradigma (pola pikir) Anda. (Stephen R. Covey).

Alkisah, kebahagiaan hidup yang bisa terjadi menjadi hal yang tak mungkin tercapai dalam kasus ini : Ibu yang sudah renta ini setiap hari menangisi takdirnya. Hari hujan dia menangis, demikian pula bila hari panas. Mengapa? Sang Ibu berkisah, “Saya punya dua orang anak wanita. Yang sulung memiliki warung es. Yang bungsu menjual payung dan jas hujan. Kalau musim hujan saya sedih memikirkan si sulung yang jualannya tidak laku. Kalau musim panas kasihan si bungsu, payung dan jas hujannya tidak ada yang membeli”. (Mari kita bayangkan bila si Ibu memandang dengan cara sebaliknya, pada musim hujan mensyukuri nasib baik si bungsu dan pada musim panas mensyukuri nasib baik si sulung).

 

Demikian pula, banyak terjadi kasus dimana akhirnya terjadi pemeo, the other grass is always greener (rumput tetangga selalu tampak lebih hijau). Seorang lelaki mengeluh panjang lebar ketidakmampuannya untuk membeli sepasang sepatu yang didambakannya.

Keluhan itupun berhenti manakala ia mendapati seorang lelaki lain yang tak memiliki kaki, tetapi si lelaki itu tampak selalu ceria. Untuk soal ini, dikatakan oleh Maya Angelou, “Jika Anda tak mampu mengubahnya, ubahlah sikap Anda. Jangan mengeluh”.

 

Berusaha untuk selalu melihat kondisi sebagai peluang (waktu ekstra) untuk bekerja adalah suatu ‘kacamata hidup’ yang sehat dan efektif’. Kacamata ini sesuai dengan nasihat John Wooden, pelatih basket terkemuka, “Jangan biarkan apa-apa yang tidak dapat Anda lakukan, mengganggu apa-apa yang dapat Anda lakukan”.

Seorang kawan yang sudah sangat “wicaksana” bertutur tentang kacamata hidupnya manakala dia tengah dalam kondisi sakit. “Kita toh nggak mungkin sehat terus kan? Lha pas sakit itu buat saya banyak sekali bagusnya.

 

Pertama, sakit adalah suatu karunia dimana kita bisa merasakan nikmatnya sehat. Kalau tidak pernah sakit, akan gampang saja kita meremehkan nikmat sehat.

Kedua, menderita sakit pada umumnya adalah merupakan suatu sinyal, bahwa ada organ tubuh kita yang perlu mendapat perhatian atau pengobatan khusus, sebelum terjadi sakit lebih parah.

Ketiga, masa sakit bagi saya adalah masa rehat, masa jeda dari pelbagai aktivitas rutin tanggung jawab kita.

 

Menurut Joan Baez, seorang penyanyi balada legendaris, “Anda tidak dapat menentukan bagaimana cara Anda mati. Atau kapan.

Anda hanya dapat memutuskan bagaimana cara Anda hidup”. Yang dapat kita lakukan adalah memilih kacamata hidup apa yang akan digunakan.

           

 

Sumber : Unknown

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: