Burung itu bukan punya mu..

Pak Udin tua seorang penjual buah beristirahat di sebuah pohon rindang, dengan handuk di pundaknya dan topi caping lusuh seakan menutupi raut mukanya yang termakan usia. Masih teringat akan pesan istrinya sebelum berangkat menjajakan buah untuk dijual agar pulang jangan terlalu malam karena hari ini dia akan  menyiapkan makanan hasil kedurian yang diterima dari tetangganya.

Tak terasa kantuk menghinggapi mata ini..badan terasa berat untuk berjalan. Terlihat sebatang pohon beringin rindang yang tampak kokoh di pinggir jalan. Barsandar badan lelah ini sekejap.. Tiba-tiba “Gubrak” terdengar seperti benda jatuh terlihat anak burung Perkutut yang terlihat sangat lapar.
Iba hati ini dengan lembutnya si pedagang buah mengambil anak burung perkutut dan membawanya pulang…

“Gimana penjualan buah hari ini?”, guman istri tercinta. “Rada berkurang bu..Tidak seperti biasanya, tapi saya mendapat anak burung kicau”. Diletakannya burung itu perlahan. Bergegas sang istri membawa sebaskom air hangat untuk membasuh burung itu perlahan dengan penuh kasih sayang..

Sebulan tak terasa burung itu kembali sehat, Suara kicau burung pagi hari membuat terpesona setiap orang yang melewati gubuk pak Udin. Berita tersebar ke penjuru desa.Sampai suatu ketika seorang saudagar kaya menawar burung tersebut.

Karena kicau burung tersebut membuat banyak orang datang ingin melihat, sehingga tak terasa dagangan pak udin cepat laku karena banyak pembeli daganganya.

Burung itu tidak dijual ucap pak Udin, burung ini hanya saya rawat sampai benar-benar sehat dan akan saya lepaskan. Tetapi penawaran saudagar itu membuat istri pak Udin tidak bisa tidur.

Ketika pak Udin sedang berjualan sang istri menjual burung tersebut ke saudagar kaya. Dan ketika pak udin datang sang istri berucap bahwa burungnya lepas.

Sedih tak terkira perasaan menghigap hati pak Udin. Tapi ujar hati berkata burung itu bukan milik mu.. Keesokan harinya sepi tanpa kicau burung yang menemani saat berdagang.

Siburung oleh saudagar kaya di ikutkan lomba tetapi burung tersebut tidak mau mengeluarkan suara. Saudagar bertanya kepada dirinya mengapa?.. Saudagar kaya itu lupa bahwa kasih sayang yang pak Udin berikan berbeda.

Saudagar kaya hanya ingin mendengar suara indah burung kicau tanpa ingin tahu gimana suara indah itu keluar dari mulut kecilnya.. Dan akhirnya dia sadar dan mengembalikan burung itu kembali ke pedagang buah tua…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: