Sahabat ku..

Tidak terasa 5 tahun sudah aku mendapatkan gelar sarjana ku, dan sekarang saya bekerja di sebuah intansi pemerintah.
Gaji honorer terkadang tidak cukup untuk membiayai kehidupan kami sekeluarga dan untuk menutupinya istri membantu dengan membuka warung kecil di depan rumah..
Hari itu adalah hari yang taakan ku lupakan, yach hari dimana saya bertemu dengan Iwan seorang teman kuliah ku dahulu..
Perawakanya masih seperti lima tahun yang lalu. Ganteng yang selalu menjadi idola kaum hawa di kampus ku.. Iri hati ini setiap melihat kehidupanya, lahir dari keluarga terpandang dan tidak terbesit sedikitpun bahwa dia akan hidup susah..
Dro.. Ujarnya dari dalam mobil starlet biru.. Mau kemana bareng kita, sambil membuka pintu mobil depan.. Ingin hati ini rasanya berlari dari panggilan itu tanpa daya pintu mobil sudah terbuka di depan ku.
Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, kenapa elo ngak ngasih kabar, Anak sudah berapa sekarang, Nikah dengan siapa..
Brondong pertanyaan keluar dari mulutnya.. Dan saya menjawabnya dengan perasaan malas.. Di otak ini sudah terbayang bahwa dia akan berucap apa.
Kita makan siang bareng yuch.. Sudah lama kita enggak ngobrol bareng, seperti biasa gw yang bayar.. 3 tahun kos bersama dengannya dia masih seperti dulu. Bagi saya dia adalah bank berjalan dikala akhir bulan hanya dia yang selalu menjadi tumpuan keuangan saya dikala belum mendapat kiriman.
Pembicaraan di siang itu terasa lama sekali, kenangan masa lalu menjadi tembok pengikat dan membuat terhanyut cerita lama yang seakan tiada habisnya.. Dia masih seperti dulu bercerita tentang kejayaanya setelah lepas dari kuliah.. Sampai dia berucap.. Gue iri sama elo Dro.. Hah seperti terkena petir di siang hari bolong saya mendengarnya, Gue iri dengan semangat elo.. Disaat teman teman tertidur elo selalu terbangun untuk belajar, disaat teman teman mengeluh tentang kiriman uang, elo belajar untuk menjadi wira usaha.. Elo enggak pernah menyerah.. Walau kesusahan datang elo selalu mencari jalan keluar.. Dalam hati berucap saya seperti ini karena keadaan teman, berapa beruntungnya hidup mu sahabat ku..
Kemudian Iwan menarik napas dalam dan berkata Saya sakit Dro.. Doakan dan maafkan saya. Bagai tersambar petir untuk ke dua kali dan petir ini terasa lebih hebat dari sebelumnya ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.. Kenapa?, Saya terkena kanker dan dokter memprediksi bahwa hidup saya tidak akan lama lagi.. Runtuh semua iri dan kesombongan saya saat ini, yang muncul adalah penyesalan dan kerendahan hati yang paling dalam.. Karang itu telah runtuh, batu itu telah hancur. Manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Iwan gue tetep sahab loe dan elo masih teman gue yang dulu sampai kapan pun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: